Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

Tuesday, February 9, 2016

Kriteria Wanita Shalihah, Laki - laki Wajib Baca!

GUDANG365 - Wanita solehah adalah sosok wanita yang di idamkan semua kaum pria bahkan pria dengan latar belakang yang jahat sekali pun pasti kelak ingin wanita yang solehah yang menjadi pasangan hidupnya. Saya pribadi pun yang biasa - biasa saja ingin sekali punya pasangan yang solehah ~hehe.

Tapi saat ini masih yang belum tahu banyak, tentang apa sih kriteria wanita solehah itu? dan wanita seperti apa yang layak mendampingi suaminya kelak?

Kriteria Wanita Shalihah

Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 34 :

“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”

Dari firman Allah diatas memberikan penjelasan singkat dan jelas. Bahwa wanita yang seperti itulah yang harus dicari oleh para laki-laki.

Agar anak-anak kelak mendapatkan ibu yang spesial dan teristimewa. Mengingat pentingnya peran wanita dalam rumah tangganya dan sangat sentral bagi anak-anaknya.

Kriteria wanita solehah yang harus diperhatikan oleh para wanita, maupun para laki-laki yang sedang mencari pasangan hati, dan juga bagi keluarga yang ingin membuat bahtera rumah tangga dan bagi para orangtua yang sedang menentukan calon menantunya hehe~.

berikut adalah kriteria yang saya dapatkan dari E-Book Kuliah Online Parenting Nabawiyah/Budi Ashari, Lc/2012 tentang ayat di atas yang relevan.

Kriteria Wanita Shalihah Secara Detail

Kriteria Wanita Shalihah Secara Detail


1. Shalehah

Kata diatas sangat familiar sekali di telinga kita. Tetapi dalam ayat ini, Allah mendefinisikan kata sholehah bagi seorang wanita. Yaitu: Qonitat dan Hafidzot lil Ghoib.

Kesholehan adalah kriteria yang wajib ada pada wanita calon istri dan ibu. Dalam kata lain, upaya seorang wanita diharuskan memperbaiki diri hingga layak disebut sholehah harus terus secara kontinyu ditingkatkan dan tak luput juga dukungan oleh suami.

Ar Razi dalam Mafatih Al Ghaib berkata,
“Ketahuilah bahwa wanita tidak disebut sholehah kecuali jika taat pada suaminya. Karena Allah berfirman: فالصالحات قانتات . Alif Lam dalam kata bentuk jama’ (banyak) berfungsi istighroq (mencakup semua), ini menunjukkan bahwa setiap wanita akan menjadi sholehah dengan syarat harus taat.”

2. Qonitah

Qonitah adalah wanita yang taat. Ibnu Abbas dan yang lainnya berkata: Yaitu taat kepada suami. (Tafsir Ibnu Katsir).

Di dalam Tafsir Fathul Qodir, ditambahkan: Yaitu yang taat kepada Allah, menjalankan hak-hak Allah dan hak-hak suami.

Sementara Al Biqo’i dalam Nadzmud Duror, memperjelas: Ikhlas dalam taat kepada suami.
Dari tiga ulama tafsir tersebut, bisa kita gabungkan. Bahwa kata Qonitah berarti: "Seorang wanita yang taat kepada Allah dan suaminya dengan hati yang ikhlas".

Istri yang sholehah adalah yang memulai semuanya dengan ketaatannya kepada Allah. Melaksanakan dengan sebaik mungkin kewajibannya kepada Yang Maha Kuasa. 

Wanita yang mengerti akan hak-hak Allah dan melaksanakannya dengan sebaik mungkin, ialah wanita yang teguh imannya, baik ibadahnya, mulia akhlaknya dan indah muamalahnya.

Apabila pemahaman diatas telah terlaksanakan dengan baik, sudah otomatis dia akan memahami hak-hak kepada sang suami. Ketaatan adalah modal utama keutuhan rumah tangga.

Ketaatan istri adalah kebahagiaan suami dan istri. Seorang suami jelas akan sangat bersyukur disuguhi ketaatan istri daripada ‘prestasi’ istri di luar rumahnya.

Dan seorang istri akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat mampu menjadi istri yang taat kepada suaminya.

Tapi ingat sebagai wanita haruslah berhati-hati dengan berbagai ajaran, isu, budaya dan lainnya di media - media masa yang dihembuskan agar para wanita memberontak dan wanita sama dengan laki - laki.

Hembusan yang datang dari budaya barat yang jelas - jelas bertolak belakang dengan ajaran Islam, jika diserap dapat menghasilkan rumah tangga yang tidak harmonis dan berantakan.

Sebagaimana yang saya sebutkan di atas bahwa suami adalah pemimpin dari keluarganya dan istri sebagai pendampingnya harus menghormati dan taat kepada suami selama berada di jalur yang di ridloi Allah.

Ketaatan terhadap perintah Allah dan terhadap suami harus dilaksanakan dengan hati yang ikhlas.

Keikhlasanlah yang akan mendatangkan pahala. Keikhlasanlah yang akan membuat seluruh aktifitas ketaatan yang melelahkan itu terasa ringan dan bisa dinikmati.

Keikhlasanlah yang bisa menembus hati suami sehingga semakin terikat kuat hubungan keduanya dan menjadi istri yang tak tergantikan di hati suami.

Tingkatkanlah ketaatan dengan hati yang ikhlas. Dan percayalah rumah tangga akan menjadi ketentraman di dunia.

3. Hafidzhoh lil Ghoib

As Suddi dan yang lainnya berkata:
Yaitu menjaga suaminya dalam dirinya saat sedang tidak ada, demikian juga menjaga hartanya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Al Biqo’i menambahkan:
Yaitu menjaga hak-hak suami berupa jiwa, rumah, harta pada saat suami tidak sedang bersama istri. (Nadzmud Duror)

Berarti, istri istimewa cirinya adalah: Menjaga hak-hak suaminya, terutama saat sang suami sedang tidak ada.

Hak-hak suami yang harus dijaga adalah, haknya terhadap diri dan jiwa sang istri serta seluruh harta benda suami.

Amanah bagi istri ini, jika dilaksanakan dengan baik oleh istri maka akan semakin menebalkan rasa cinta bagi suaminya dan memberikan kebahagiaan hati yang tak terkatakan.

Bagi seorang suami, jelas dia akan merasa sangat nyaman walau harus meninggalkan istrinya. Nyaman dan aman pada istri yang tidak mungkin berlaku nista di belakangnya.

Nyaman dan aman pada harta yang benar-benar dijaga dan tidak dikeluarkan kecuali seizinnya. Nyaman dan aman karena jerih payahnya selama ini terjaga oleh istri yang mengerti.

Jadi, inilah kunci besar bagi wanita atau bagi anak perempuan yang sedang tumbuh dalam pendidikan dan layak dijadikan istri serta ibu bagi anak-anak di kemudian hari. Yaitu:

a. Taat kepada Allah

b. Taat kepada suami

c. Ikhlas dalam ketaatannya

d. Menjaga dirinya dan cintanya saat suami tidak ada

e. Menjaga harta suami dengan baik

Semuanya terkemas dalam satu kata: SHOLEHAH…

Sebesar Apapun Utang Anda, Yakinlah Allah Pasti Melunasinya

GUDANG365 - Dalam hidup tentunya kita sebagai manusia tidak luput dari segala masalah yang dihadapi mulai dari masalah diri sendiri, keluarga, kerabat bahkan lingkungan sosial. Setiap manusia di wajibkan untuk saling membantu satu sama lain, salah satunya memberikan pinjaman kepada sodara atau kerabat kita yang sedang kekurangan.



Terkait pinjam - meminjam atau utang piutang Islam menganjurkan tetapi tidak dengan manambahkan bunga pada si peminjam (Rentenir) karena itu bisa menjadikan dosa besar dan haram hukumnya.

Kita sebagai manusia seringkali mendapat masalah terutama yang si peminjam untuk mengembalikan lagi utang dikarenakan berbagai faktor kebutuhan dan pendapatan, tapi percayalah apabila kita bersungguh - sungguh ingin melunasi berusahalah dan yakinlah Allah Maha Kaya.

UMMU Salamah meriwayatkan bahwa setelah mendirikan shalat subuh, tepatnya setelah salam, Rasulullah SAW terbiasa berdoa:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima,” (al-Jami’ ash Shaghir).

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kemiskinan, dan kehinaan,” (al-Jami’ ash-Shaghir).

Rasulullah SAW sendiri senantiasa berdoa agar Allah SWT memberikan rezeki yang terbaik, sekaligus berlindung kepada-Nya dari kemiskinan.

Ali bin Abi Thalib mengisahkan bahwa dirinya ditemui seseorang yang mengadukan masalah. “Saya tidak kuat melunasi utang, maka tolonglah saya.”

Ali kemudian berkata, “Maukah engkau saya ajari beberapa kalimat yang diajarkan Rasulullah SAW kepada saya? Jika engkau memiliki utang sebesar gunung pun, Allah akan melunasinya untukmu. Berdoalah:

“Ya Allah cukupilah saya dengan yang Engkau halalkan dari yang Engkau haramkan. Dan cukupkan saya dengan karunia-Mu dari selain dari-Mu,” (HR. Ahmad).

Orang yang mengadu kepada Ali tersebut tidak mampu membayar utang kepada tuannya yang sudah jatuh tempo. Artinya, dia tidak bisa mengembalikan pinjamannya tepat waktu.

Dia menemui Ali bin Abi Thalib karena ingin meminta tolong, baik dengan diberi uang maupun dengan diajari doa yang berkaitan dengan keluasan rezeki. Ali kemudian mengajarinya agar memanjatkan doa serta memohon kepada Allah SWT dan tidak bersandar kepada manusia.

Dari riwayat diatas dijelaskan bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak diberikan rizki oleh Allah Subhaanahu Wata'ala tergantung dari kita berusaha dan berdoa.

Dan saya tekankan lagi dari sebuah hadist saya pernah membaca bahwa sebaik - baiknya manusia adalah yang bisa mengembalikan pinjamannya.

Oleh karena itu, berusahalah dan segera bayar hutang anda jangan sampai hal tersebut menyulitkan anda di akhirat kelak.

Referensi: Kiat Menjadi Muslimah Seutuhnya/karya: Adnan Tharsyah/penerbit:Senayan Publishing